NUMegaluh.com – Memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama yang ke-103 (menurut penanggalan Hijriah, 16 Rajab 1344 H – 16 Rajab 1447 H), kita diajak untuk kembali menengok sejarah emas berdirinya jam’iyah terbesar ini. Sebuah perjalanan panjang yang bermula dari keresahan para kiai akan nasib agama dan bangsa, hingga menjelma menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

Sebagai warga NU, khususnya di lingkungan MWC NU Megaluh, memahami sejarah pendirian organisasi ini adalah kunci untuk merawat semangat khidmah. Berikut adalah rangkuman sejarah singkat berdirinya Nahdlatul Ulama.

Embrio Pergerakan: Dari Wathan hingga Tujjar

Jauh sebelum NU resmi berdiri pada tahun 1926, para ulama pesantren sebenarnya telah memiliki jaringan pergerakan yang kuat. Dimotori oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, semangat kebangkitan itu dimulai dari ranah pendidikan dan pemikiran.

Pada tahun 1916, lahirlah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan kebangsaan dan agama. Tak berhenti di situ, pada tahun 1918 didirikan pula Taswirul Afkar (Kebangkitan Pemikiran) sebagai wahana diskusi ilmiah para ulama, serta Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Saudagar) untuk menguatkan ekonomi umat sebagai penopang dakwah.

Ketiga pilar ini—pendidikan, pemikiran, dan ekonomi—menjadi pondasi awal (embrio) sebelum jam’iyah NU benar-benar terbentuk.

Komite Hijaz dan Tantangan Global

Pemicu utama lahirnya NU secara institusional tidak lepas dari kondisi geopolitik Islam dunia saat itu. Jatuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani dan dikuasainya Makkah oleh rezim Ibnu Saud yang beraliran Wahabi menimbulkan kekhawatiran besar.

Rezim baru di Arab Saudi saat itu melarang praktik ibadah ala Ahlussunnah wal Jamaah (seperti tahlil, ziarah kubur, dan maulid) serta berniat membongkar situs-situs sejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW.

Para ulama Nusantara tidak tinggal diam. KH. Wahab Chasbullah atas restu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari membentuk Komite Hijaz. Komite ini bertugas mengirimkan delegasi untuk menemui Raja Ibnu Saud di Makkah guna memperjuangkan kebebasan bermazhab.

Lahirnya Nahdlatul Ulama: 16 Rajab 1344 H

Agar delegasi Komite Hijaz dapat dikirim secara resmi dan memiliki kekuatan hukum, maka diperlukan sebuah organisasi yang menaunginya. Maka, pada tanggal 16 Rajab 1344 H (bertepatan dengan 31 Januari 1926 M), para ulama terkemuka berkumpul di Kertopaten, Surabaya.

Dalam pertemuan bersejarah tersebut, disepakatilah pembentukan organisasi bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama). Nama ini dipilih untuk menegaskan bahwa organisasi ini digerakkan oleh para ulama untuk membangkitkan dan menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

KH. Hasyim Asy’ari didaulat sebagai Rais Akbar, sementara KH. Wahab Chasbullah menjabat sebagai Katib Aam. Sejak saat itu, NU tidak hanya fokus pada masalah agama, tetapi juga penanaman rasa nasionalisme, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Refleksi Harlah ke-103

Kini, 103 tahun telah berlalu sejak pertemuan di Surabaya tersebut. NU telah tumbuh menjadi pohon raksasa yang menaungi umat dan bangsa Indonesia.

Bagi kita di Megaluh, peringatan Harlah ke-103 ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah panggilan untuk melanjutkan perjuangan Mbah Hasyim dan para Muassis (pendiri) NU. Merawat tradisi, menjaga NKRI, dan terus berkhidmah untuk kemaslahatan umat adalah cara terbaik kita mensyukuri nikmat adanya Nahdlatul Ulama.

Selamat Harlah NU ke-103. Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *