Megaluh – Aroma bulan suci Ramadhan kian terasa. Bagi warga Nahdliyin, persiapan menyambut tamu agung ini tidak dilakukan secara mendadak, melainkan dimulai sejak bulan-bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban. Dua bulan ini ibarat gerbang persiapan ruhani dan jasmani agar saat Ramadhan tiba, jiwa kita telah siap memanen pahala. Sebagaimana diajarkan oleh para ulama NU, bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, dan Ramadhan adalah bulan memanen. Berikut adalah rangkuman amalan sunnah penting untuk menghidupkan bulan-bulan haram ini. 1. Menghidupkan Bulan Rajab: Doa dan Puasa Rajab adalah salah satu dari empat bulan mulia (Al-Ashhur Al-Hurum). Di bulan ini, rahmat Allah dilimpahkan dengan deras. Ada dua amalan utama yang ditekankan oleh para ulama: Memanjatkan Doa Keberkahan Saat memasuki bulan Rajab, amalan pembuka yang paling masyhur dan menjadi wirid harian warga NU adalah doa menyambung harapan agar usia disampaikan hingga Ramadhan: “Allahumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya’bâna wa ballighnâ Ramadhâna.” Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.” Melaksanakan Puasa Sunnah Rajab Berpuasa di bulan Rajab hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan, sebagaimana anjuran berpuasa di bulan-bulan haram lainnya. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan keutamaan berpuasa di bulan ini sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Puasa ini bisa dilakukan kapan saja selama bulan Rajab, baik di awal bulan, hari-hari putih (Ayyamul Bidh di pertengahan bulan), setiap hari Senin-Kamis, atau pada hari-hari lainnya sesuai kemampuan. 2. Bulan Sya’ban: Waktu Amalan Diangkat Setelah menanam benih amal di bulan Rajab, kita memasuki bulan Sya’ban untuk menyiramnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa Sya’ban adalah bulan di mana amal perbuatan manusia diangkat (dilaporkan) kepada Allah SWT. Sayangnya, Sya’ban sering disebut sebagai bulan yang “terlupakan” karena diapit oleh Rajab dan Ramadhan. Oleh karena itu, menghidupkan bulan ini memiliki nilai pahala yang istimewa karena dilakukan saat banyak orang lain sedang lalai. 3. Ragam Amalan Persiapan Ramadhan di Bulan Sya’ban Sebagai bentuk “pemanasan” rohani dan fisik yang lebih intensif, berikut amalan prioritas di bulan Sya’ban: Memperbanyak Puasa Sunnah Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban melebihi bulan-bulan lainnya selain Ramadhan. Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Senin-Kamis. Ini sekaligus menjadi latihan fisik agar tubuh tidak kaget saat menjalani puasa wajib sebulan penuh nanti. Akrab dengan Al-Qur’an dan Dzikir Mulailah membiasakan diri tadarus Al-Qur’an dan memperbasah lisan dengan dzikir serta istighfar. Para salafus saleh menyebut Sya’ban sebagai Syahrul Qurra’ (bulannya para pembaca Al-Qur’an). Qiyamul Lail (Shalat Malam) Menghidupkan malam dengan shalat Tahajud, Hajat, atau Witir. Kebiasaan bangun malam di bulan Sya’ban akan memudahkan kita untuk bangun sahur dan shalat malam di bulan Ramadhan. Taubat Nasuha Membersihkan hati dari noda dosa dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Hati yang bersih akan lebih mudah menyerap cahaya hidayah dan keberkahan Ramadhan. 4. Persiapan Materi dan Sosial Selain persiapan ruhani, persiapan materi juga tak kalah penting. Bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk menata finansial. Tujuannya bukan untuk bermewah-mewahan saat lebaran, melainkan agar kita memiliki kelapangan rezeki untuk bersedekah, berinfak, dan memberi makan orang yang berbuka (takjil) di bulan Ramadhan nanti secara maksimal. Mari kita manfaatkan momentum Rajab dan Sya’ban ini dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan umur panjang agar kita bisa berjumpa dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan iman yang kokoh. Aamiin ya Rabbal Alamin. Bagikan ini: Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp Navigasi pos Peringati Isra’ Mikraj dan Haul Masyayih, NU Ranting Megaluh Gelar Rangkaian Kegiatan Keagamaan Selama Tiga Hari Menyemai Hikmah Isra’ Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Pelajaran Hidup bagi Umat