Megaluh – Bulan Rajab selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Di bulan mulia ini, terdapat peristiwa agung yang melampaui logika manusia, namun sarat akan nilai keimanan, yakni Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus Sidratul Muntaha, bukan sekadar sejarah perjalanan malam. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah “wisata ruhani” yang membawa oleh-oleh berupa perintah shalat lima waktu serta pelajaran hidup yang mendalam bagi kita semua.
Berikut adalah beberapa refleksi penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Hiburan Ilahi di Tengah Kesedihan (Amul Huzni)
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setelah Rasulullah SAW mengalami Amul Huzni atau tahun kesedihan, di mana beliau ditinggalkan oleh dua sosok pelindungnya, yakni sang istri Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Pelajaran:
Allah SWT mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan dan kesedihan yang mendalam, selalu ada jalan keluar dan kemuliaan bagi hamba yang bersabar. Isra’ Mi’raj adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang terpuruk. Bagi kita, ini adalah pesan optimisme: setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
2. Shalat sebagai “Mi’raj” Orang Mukmin
Oleh-oleh terbesar dari perjalanan ini adalah perintah shalat lima waktu. Jika Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj (naik) untuk bertemu Allah, maka shalat adalah sarana bagi umatnya untuk “naik” dan berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
Pelajaran:
Shalat bukan sekadar kewajiban menggugurkan dosa, melainkan kebutuhan jiwa. Melalui shalat, kita diajarkan untuk disiplin waktu dan menjaga kebersihan hati. Shalat yang khusyuk akan menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar, sekaligus penenang di kala hati gelisah.
3. Keimanan di Atas Logika
Perjalanan Isra’ Mi’raj yang ditempuh dalam waktu semalam sangat sulit diterima oleh akal manusia pada masa itu. Namun, sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkannya tanpa ragu.
Pelajaran:
Ini mengajarkan kita tentang pentingnya aqidah dan keyakinan total kepada kekuasaan Allah SWT. Dalam hidup, tidak semua hal bisa diukur dengan matematika atau logika manusia. Ada wilayah iman yang menuntut kita untuk berserah diri (tawakkal) bahwa skenario Allah adalah yang terbaik.
4. Keseimbangan Hablum Minallah dan Hablum Minannas
Perintah shalat mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah (Hablum Minallah). Namun, efek dari shalat harus membumi dalam hubungan sosial (Hablum Minannas). Seseorang yang baik shalatnya, seharusnya baik pula akhlaknya kepada tetangga, saudara, dan masyarakat sekitar.
Penutup
Semoga peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi menjadi titik balik bagi kita untuk memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak. Mari jadikan semangat Isra’ Mi’raj sebagai motivasi untuk bangkit dari segala keterpurukan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *